TOR RTD UKM UMKM Industri

Jan 10, 2018


Namun disisi lain, laju pertumbuhan ekonomi belum seperti yang diharapkan, masih pada kisaran 5%. Basis pertumbuhan ekonomi juga masih terlalu bertumpu pada sektor konsumsi, kontribusi dari kegiatan investasi maupun ekspor masih terbatas atau relatif kecil.  Padahal, untuk bisa keluar dari berbagai beban perekonomian saat ini, pertumbuhan ekonomi idealnya berkisar 7%-8%, dengan basis pertumbuhan yang lebih merata antara konsumsi, investasi dan ekspor.

Dalam kondisi seperti sekarang ini, sulit bagi Indonesia untuk bisa memperkuat struktur perekonomiannya dalam rangka menghadapi berbagai tantangan yang semakin besar di masa datang, seperti era industri digital atau Industry 4.0, middle income trap,  dan food crisis.

Pertanyaan kemudian adalah bagaimana menggunakan modal besar tersebut menjadi efektif untuk menggerakkan setiap sektor ekonomi, dalam rangka menciptakan bangun atau struktur perekonomian nasional yang kuat dan siap menghadapi berbagai tantangan yang lebih berat di masa datang?

Berdasarkan pengalaman menjalankan tanggung jawab sebagai Duta Investasi Presiden RI untuk Jepang, dan sebagai inisiator Penulisan Visi 2030 & Roadmap 2010 Pengembangan Industri Nasional dalam kapasitas saat itu (2007) sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Industri Kadin Indonesia, kami  sebagai  DutaInvestasi Presiden RI untuk Jepang melihat pentingnya semua stakeholders bersinergi membangun strategi kebijakan untuk menyiapkan struktur perekonomian yang lebih kuat dalam menghadapi tantangan ke depan, agar modal besar yang ada saat ini tidak menjadi sia-sia.

Berdasarkan data yang ada, sebagian besar Produk Domestik Bruto (PDB) kita berasal dari sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Sekitar 60% dari PDB berasal dari proses nilai tambah yang disumbangkan oleh sektor ini. Begitu juga dalam penyerapan tenaga kerja, sektor UMKM menyerap sekitar 97% angkatan kerja.

Namun disisi lain, berdasarkan penelitian (sumber Ganeshan Wignaraja, Can SMEs participate in global production network, evidence from ASEAN?), keterkaitan usaha kecil menengah (UKM) Indonesia dalam jaringan produksi masih sangat rendah yaitu 6,3%. Angka ini merupakan terendah di kawasan ASEAN-5 yang rata-rata 20%. Berdasarkan penelitian tersebut, keterkaitan UKM Malaysia dengan jaringan dalam kegiatan produksi mencapai 46,2%, Thailand 29,6%, Filipina 20,1% dan Vietnam 21,4%.

Kondisi itu juga membuat kontribusi UKM terhadap ekspor menjadi rendah hanya sekitar 15%, di bawah Malaysia 19%, Thailand 29,9%, Filipina 20% dan Vietnam 20%. Angka ini menunjukkan bahwa keterkaitan UKM Indonesia pada arus perdagangan dunia (global supply chain) terendah di lingkungan ASEAN, apalagi dibandingkan Jepang yang mencapai 53,8% dan Jerman 55,4%.

Data-data tersebut menggambarkan adanya ketimpangan, di satu sisi UKM & UMKM memainkan peran paling penting dalam mendukung pertumbuhan PDB dan penyerapan tenaga kerja, di sisi lain UKM & UMKM belum mempunyai akses yang luas terhadap arus supply chain.

Sejalan dengan kian menguatnya arus global supply chain maupan global value chain, meningkatkan keterlibatan sektor UKM & UMKM terhadap pasar internasional adalah hal yang harus dilakukan. Ini merupakan tantangan yang harus dihadapi, yaitu membangun strategi kebijakan agar potensi besar UKM & UMKM menjadi efektif untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi sekaligus berperan besar memperkuat struktur perekonomian nasional. Membangun strategi penguatan supply chain antar pelaku industri menjadi sangat penting dalam rangka memperkuat pendalaman struktur ekonomi nasional dari Hulu-Perantara-Hilir.

Kebutuhan terhadap strategi tersebut menjadi semakin kuat dalam menghadapi era industri digital gelombang industri keempat (Industry 4.0) yang semakin menunjukkan besarnya peran global value chain. Menggali potensi dan tantangan UKM & UMKM dalam menghadapi Industry 4.0 merupakan langkah strategis yang perlu disiapkan.

Dalam konteks ini contoh sukses yang mungkin dapat dipakai adalah Jepang. Jepang memiliki komitmen kuat dalam membangun dan mengembangkan sektor UKM & UMKM menjadi supporting industry untuk kepentingan produk industri dalam memperkuat struktur industri sogo shosha mereka, di tingkat regional dan global.

Dalam kerangka inilah Duta Investasi Presiden RI untuk Jepang menyiapkan masukan, melalui penyelenggaraan round table discussion (RTD) yang melibatkan para stakeholders sektor industri, mulai dari pelaku usaha, pakar dan akademisi, serta pejabat pemerintah terkait, untuk bersama-sama melihat potensi dan tantangan dalam meningkatkan akses UKM & UMKM ke dalam supply chain sektor industri nasional, dengan tema : “Membangun Strategi Kebijakan Untuk Memperkuat Struktur Perekonomian Menuju Pertumbuhan 7-8% per Tahun: Bagaimana Potensi dan Peluang pelaku UKM & UMKM?”.

Melalui tema ini, RTD diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas dan tegas, serta rekomendasi tentang langkah atau kebijakan yang diperlukan dalam kebijakan pembangunan struktur perekonomian nasional ke depan, mengingat UKM & UMKM adalah modal besar dan harus mendapat prioritas.

Tema ini dipilih karenadata menunjukkan, bahwa sesungguhnya pelaku utama perekonomian nasional adalah UKM & UMKM seperti terlihat dalam kontribusinya  terhadap PDB dan penyerapan tenaga kerja, namun dalam perspektif kebijakan pembangunan ekonomi sektor ini belum ditempatkan sebagaimana seharusnya, sesuai dengan peran, potensi dan peluang yang ada. Kebijakan terhadap UKM & UMKM selama iniseakan-akan sektor ini adalah bagian terlemah dalam bangun struktur perekonomian.

Akibatnya terjadi ketimpangan yang besar antara persepsi denganpotensi dan peluang UKM & UMKM yang sesungguhnya. Termasuk pada sebagian besar pelaku UKM & UMKM sendiri, terdapatpersepsi bahwa potensi mereka masih sangat terbatas dan ini menjadi penghambat visi pengembangan usahanya.

Dalam kaitan itu,ada sejumlah pertanyaan kritikal yang perlu bersama-sama untuk didiskusikan:

1. Bagaimana membangun strategi kebijakan agar lebih efektif megembangkan nilai tambah sumber daya alam di sektor  pertanian, kehutanan, kelautan dalam menghadapi issue food crisis, dengan memanfaatkan potensi UKM & UMKM?

2. Bagaimana membangun strategi kebijakan dalam memperkuat struktur sektor industri dengan memanfaatkan potensi UKM & UMKM, agar target Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035 bisa tercapai?.Yaitumenjadikan Indonesia sebagai Negara Industri Tangguh yang bercirikan struktur industri nasional yang kuat dan dalam, berdaya saing tinggi di tingkat global, serta berbasis inovasi dan teknologi pada 2025-2035(di era Industry 4.0).

3.Bagaimana membangun strategi kebijakan dalam mengelola bonus demografi, guna meningkatkan produktivitas nasional melalui UKM & UMKM, agar Indonesia tidak terjebak dalam middle income trap?

4. Bagaimana membangun strategi kebijakan untuk memperkuat sinergi sektor perdagangan, investasi dan keuangan,dalam mendukung penguatan struktur perekonomian?

5. Bagaimana membangun strategi kebijakan moneter dan fiskal pemerintah dari pusat sampai daerah, untuk mendayagunakan daya saing komparatif dan kompetitif bangsa?

6. Bagaimana membangun sinergi antar pelaku ekonomi, BUMN, Swasta, UKM & UMKM dalam memperkuat supply chain pada perekonomian domestik dan memanfaatkan arus global value chain?

Maksud dan Tujuan:

Untuk membangun pandangan yang komprehensif dan holistik terhadap persoalan perekonomian nasional, dalam rangka melahirkan strategi kebijakan yang efektif untuk menghadapi tantangan ke depan.

Output:

Rekomendasi berupa masukan untuk pengembangan kebijakan ekonomi, termasuk peran strategis UKM & UMKM dalam pembangunan perekonomian bangsa untukmencapai masyarakat adil dan sejahtera, khususnya dalam mendukung pencapaian target RIPIN menjadikan Indonesia sebagai negara industri tangguh pada 2035.

Penyelenggara/Host

Kantor Duta Investasi Presiden RI untuk Jepang.

Jadual Pelaksanaan

RTDUtama/Sesi I: Pada 11 Januari 2018, di Hotel SantikaPremiere Jakarta, dengan tema “Membangun Strategi Kebijakan Untuk Memperkuat Struktur Perekonomian Menuju Pertumbuhan 7-8% per Tahun: Bagaimana Potensi dan Peluang pelaku UKM & UMKM?”.

Dengan Nara Sumber :

o Bapak  Ir. Jusman S. Djamal, Ketua Umum Yayasan Matsushita Gobel (peserta diskusi, sekaligus ketua tim pengarah kajian)

o Bapak FaisalH.Basri,SE., MA.,dosen Fakultas Ekonomi Bisnis UI (peserta diskusi, akademisi)

o Bapak Abdul Sobur, Wakil Ketua Umum HIMKI (Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia) yang juga CEO & FounderKriya Nusantara Group (peserta diskusi, pelaku usaha)

o Bapak Sudirman MR, Presiden Direktur PT. Astra Daihatsu Motor  (peserta diskusi, pelaku usaha)

o Bapak Heru Santoso, Sekretaris Jenderal GABEL (Gabungan Elektronika) yang juga Wakil Presiden Direktur PT. Panasonic Manufacturing Indonesia (peserta diskusi, pelaku usaha)

RTDSesi II: Direncanakan pada bulan Februari/Maret2018. Sub Tema: “Meningkatkan Akses UKM & UMKM Dalam Pengembangan dan Penguatan Struktur Industri Logam dan Apparel”.

RTDSesi III: Pada bulan Maret/April2018. Sub Tema: “Meningkatkan Akses UKM & UMKM Dalam Pengembangan dan Penguatan Struktur Industri Mebel dan Agro”.

Peserta

Para pelaku usaha/praktisi bisnis, akademisi/pakar, regulator dan lembaga Jepang terkait (JETRO, dll.)